
Pendidikan Berbasis Aset
Sekolah Anak Indonesia menyelenggarakan pendidikan berjenjang SD, SMP, dan SMA dengan pendekatan pembelajaran yang dirancang untuk membentuk peserta didik sebagai praktisi kehidupan—anak-anak yang mampu memahami realitas di sekitarnya, mengelola potensi yang ada, dan mengambil peran nyata dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan masa depan mereka.
Setiap jenjang pendidikan memiliki fokus pengembangan yang berkesinambungan.
Pada jenjang SD, pembelajaran diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran anak terhadap lingkungan terdekatnya. Siswa belajar mengenali, menghargai, dan mengelola aset di sekitarnya sebagai fondasi berpikir kritis, empati sosial, dan kemandirian awal.
Pada jenjang SMP, siswa dikembangkan untuk mampu mengolah pengetahuan dan teknologi secara kontekstual. Proses belajar menekankan pada kemampuan analisis, pemecahan masalah, serta penerapan sains dan teknologi dalam situasi nyata.
Pada jenjang SMA, siswa dipersiapkan untuk menjadi individu yang mandiri, visioner, dan berdaya cipta. Pembelajaran berfokus pada pengembangan jiwa kewirausahaan, kepemimpinan, serta kemampuan merancang dan mengeksekusi solusi atas persoalan nyata.
Seluruh proses pembelajaran di Sekolah Anak Indonesia berlandaskan pendidikan berbasis aset melalui pendekatan PALM (Pengkajian Aset Lokal dan Modernisasi). Siswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi diajak mengkaji potensi sosial, budaya, alam, dan teknologi di lingkungannya, lalu menghubungkannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan global.
Metode pembelajaran dilaksanakan melalui proyek terintegrasi yang menghubungkan mata pelajaran inti dengan realitas kehidupan. Proyek dirancang untuk melatih cara berpikir sistemik, kolaboratif, dan reflektif, sehingga pembelajaran tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi berlanjut pada aksi dan dampak.
PBPM & PALM
Program Pembelajaran di Sekolah Anak Indonesia menggunakan metode pembelajaran yang disebut sebagai Pengkajian Budaya Papua dan Modernisasi (PBPM). PBPM menekankan kepada tiga unit nilai primer yaitu mencintai kehidupan (yang kemudian menjadi dasar ketahanan budaya, ekonomi, dan teknologi; pengembangan kemampuan (skill) siswa (manajemen teknologi, manajemen modal, dan manajemen pasar).
Mengingat latar belakang siswa Papua yang lebih akrab dengan pendidikan tradisional yang cenderung skill-based education; perwujudan dua hal tersebut dilakukan dengan dasar pembelajaran berstandar nasional — agar kemampuan siswa tetap relevan dengan standar nasional namun secara berkesinambungan dapat pula tercapai pengembangan ekonomi masyarakat di daerahnya.
PBPM diwujudkan dalam lima ruang yaitu skill, teori, nalar, komunitas, kemandirian, keimanan. Lima ruang ini kemudian diimplementasikan dalam berbagai program dan kegiatan pembelajaran baik di sekolah maupun asrama.
Sekolah Anak Indonesia mengembangkan pendekatan pembelajaran PALM (Pengkajian Aset Lokal dan Modernisasi), yaitu model pendidikan berbasis aset yang mengajak siswa mengenali, memahami, dan mengembangkan potensi di sekitarnya—baik aset manusia, budaya, alam,—dalam konteks kehidupan modern dan global.
Melalui PALM, siswa tidak hanya belajar konsep akademik, tetapi dilatih untuk berpikir kritis, memecahkan masalah nyata, dan menciptakan solusi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini dirancang untuk membentuk praktisi kehidupan, yaitu anak-anak yang mampu hidup mandiri, adaptif, dan bertanggung jawab di tengah perubahan zaman.
PALM diterapkan melalui integrasi STES (Science, Technology, Entrepreneurship, and Social) sebagai fondasi utama pembelajaran.
